Langsung ke konten utama

Postingan

Kotonoha no Niwa

言の葉の庭
1.
Waktu itu jam tangan menunjukkan 11.30. Aku duduk bersila dan bingung, apa lagi yang bisa dikerjain ya? Sudah berapa kali ornamen masjid kuamati dan memang takkan ada perubahan. Karpet hijau membentang dari depan hingga belakang, dinding yang dihiasi dengan waktu shalat, mimbar Masjid dengan lafadz Allah, dan mikrofon yang belum dikumandangi azan dzuhur. Aku yang datang bersama temanku, dia menolak untuk diganggu dan sedang asik dengan HPnya. Akhirnya aku melihat tumpukan buku dan di antaranya ada kitab Riyadhus Shalihin. Wah lumayan lah baca-baca, daripada bengong.

Tidak sulit mengambil buku itu di antara tumpukan buku yang lain. Bagian sulitnya adalah memahami isi buku tersebut. Setelah melihat daftar isi kuputuskan untuk membaca bab 3. Sabar. Aku heran dengan kata sabar. Sering sekali kata itu muncul dari mulut orang-orang "Sabar ya." Sebenarnya apa sih yang dimaknai dari kata "sabar"? ketika ribuan orang bilang "sabar ya" apakah semua orang t…
Postingan terbaru

Virus Ceria di Tengah Pancaroba

拝啓  Di suatu senja ketika matahari mulai terbenam, sebagai koas yang tengah jaga malam aku seperti biasa pergi ke bangsal. Koas pun menyapa "sore pak/sore bu" namun tak ada balasan, dilihat pun tidak. "pak/bu saya di sini loh. saya di sini" dalam hati. Adakah selama ini aku menyapa sendiri? yah bertepuk sebelah tangan. Baiknya senyumin aja, siapatahu yang disapa sedang ada masalah besar atau pernah disakiti oleh koas (jangan salah, banyak juga koas kurang ajar soalnya).

Fenomena macam itu sejujurnya cukup sering saya alami sebagai koas, namun perlu penilitian lebih lanjut. Hipotesa saya dari 10 sapaan, ada sekitar 3-4 yang pungguk merindukan bulan. tapi yang saya sayangkan, fenomena tersebut malah mendorong koas untuk berhenti menyapa duluan. Apakah karna takut cinta tak berbalas? atau ada faktor lain? beberapa bilang "buat apa nyapa tapi dijutekkin?" Benar juga sih. Aku pun kadang enggan menyapa karena takut. Padahal, kadang rezeki dimulai dari sapaan, l…

Koas Bedah Banyumas dalam Sepenggal Kata

RSUD Banyumas, luar kota yang sejauh ini paling klik (setelah RSA). Bukan karena SNI, namun karena gabungan semua aspek yang menjadikan RS ini jodohnya koas. Variabilitas kosan, keramahan perawat, kesukarelaan konsulen dalam mengajar, dekatnya dengan Purwokerto sampai dengan tempe mendoan.


Hari pertama seperti biasa administrasi. Satu-satunya hari dimana kita dapat berangkat 07.30. Sisa hari lainnya menjadi rutinitas bahwa kaki di sini harus melangkah sekitar pukul 6 (koas saraf, anak, IPD). Namun bedah dan jiwa cukup spesial karena dapat plusplus dari 6.
Kegiatan koas bedah dimulai bergantung pada visite residen. Jika residen visite jam 7, kita bisa berangkat dan visite pribadi sebelum pukul 7. Bergantung jumlah pasien yang kita visite dan kompleksitas keadaan. Kalau residen visite pukul 6.30, ya disesuaikan.
Setelah visite pagi, dilanjutkan visite/poli/IBS sesuai dengan titah konsulen hari itu. Entah mengapa semua koas banyumas bisa serentak, kita selalu ada waktu kosong antara vis…

Mulai dari Nol ya Pak

Nol kilometer di Jogja adalah titik paling menarik sepanjang jalan malioboro. Berbagai macam acara maunya diselenggarakan di sini. Ratusan orang silih berganti lalu-lalang untuk berwisata minimal untuk jalan, entah jalan kaki atau pakai kendaraan. Nol adalah suatu angka yang unik di sini.


Akan tetapi tidak demikian di sekolah. Murid-murid tidak mau mendapatkan nol. Siapa yang mau ujiannya dapat nol? Eh ternyata ada. Mereka mau nol, tetapi nolnya dua lalu ada angka satu di depan kedua angka nol tersebut. Kali ini nol menjadi sebuah paradox, antara tidak mau dan mau.


Mungkin kalau aku kembali membahas angka nol, kita akan muak terhadap ini. Sebenarnya apa yang ingin disampaikan sehingga harus ke malioboro dan sekolah dulu. Aku ingin menyampaikan bahwa nol tidak hanya sekadar ucapan di SPBU "pak mulai dari 0 ya". Ucapan tersebut bukan hanya sekadar kewajiban yang harus diucapkan karyawan karena kalau tidak akan kena marah atasan. Ada sesuatu di sana. Ada sesuatu yang bisa kita…

Bagi tips koas Obsgyn dong? Ini jawabannya

Hari ini kita bahagia, artikel ini bahagia. Meskipun tas punggung sudah 3 hari di ruang bersalin (VK) tak berpindah tempat, saya tetap bahagia. Meskipun sudah 3 hari belum pergi dari rumah sakit -- ke kos hanya numpang mandi -- kami bahagia. Sebenarnya saya bisa saja pulang di hari ke-2 tetapi waktu itu hujan deras dan kondisi sangat capek, akhirnya numpang tidur di VK dan jadilah 3 hari berumah di VK.

Akhirnya bisa pulang dari RS yeay, perjuangan 3 hari tak sia-sia karena ada hal menarik. Hari pertama memang jatah saya untuk jaga. Rutinitas jaga malam yang biasa kami lakukan berjalan seperti pada umumnya. Hari kedua ini yang keren dan menarik untuk diceritakan. Hari ketiga keren buat saya tetapi tidak menarik untuk diceritakan (pulang).



Hari kedua adalah jatah saya di Instalasi Bedah Sentral Purworejo kita biasa sebut IBS, ada juga yang sebut OK/kamar operasi. IBS saya lakukan setelah jaga 24 jam, malam itu saya tidur sekitar pukul 01,00-04.00 di VK, hitungannya sangat bagus untuk ja…

Sunrise dan Sunset di Koas

Before Sunset

Namanya bu yanti, bu ndari, dan bu ary. salah 3 bidan terbaek RSUD Sleman (masih banyak bidan lain yang baik yang tidak mampu disebutkan satu per satu, salah 3 ini bosnya). Beliau bertiga adalah sahabat koas. mengerti kesulitan2 koas dan bersikap ramah seperti partner kerja. kalau kami salah ya diingatkan, kalau kami benar mereka tersenyum.

Kalau kami membaur dan mengerjakan tanggung jawab, tak segan beliau b3 bagi-bagi rezeki, seringkali kami dikasih makanan sehingga tak perlu beli makan siang. Lebih berharga lagi kami diberikan wejangan, dan lebih bahagia lagi kami mendapat ilmu dari beliau bertiga.

Before Sunrise

Namanya X, salah satu partner kami yang semoga diberikan pencerahan. Atau kah kami yang salah, kami yang perlu dicerahkan? Masing-masing dari kita saling introspeksi

Yang aku sayangkan adalah sikapnya yang membeda-bedakan pasien. mentang-mentang pasien pejabat/istri pejabat, perlakuannya 180 derajat dari perlakuannya terhadap rakyat biasa. oh sayang sungguh …

Koas Malang Koas (tak) disayang: Terusir dari rumah sendiri

Dengan segala hormat dan rasa sayang, artikel ini tidak bermaksud menjelek-jelekan siapa-pun dan apa-pun. Namun suara harus didengar dan kejadian harus dilihat. Dengarkanlah kami anakmu sendiri, dengarkanlah suara kecil kami bercerita tentang perintilan kehidupan kami. Lihatlah kami yang asli, bukan kami yang kau dengar dari mulut orang lain. Lihatlah kami di sini, kami bukan seperti apa yang mereka ceritakan, kami punya cerita kami sendiri.

***

Matahari saat itu belum muncul, masih mengintip malu-malu di antara pukul empat dan lima. aku saat itu masih duduk polos sambil membereskan bekas sedekap dan rukuk. Tak dipungkiri rutinitas membuka HP tiap pagi juga kulakukan seperti orang pada umumnya. Namun rutinitas pagi itu tak seperti biasanya, suasana hati seketika berubah dan seharusnya sumbuku lebih panjang.

"kakak2 dan teman2, sekedar info saja dan juga mau tanya. ini ruang konsultasi dokter di IGD RS *piip* yang biasanya buat tempatnya koas sekarang dikunci terus. Katanya gara2 …